IT as an enabler, teknologi informasi sebagai pemungkin nilai

Emphasizing that access to information on the Internet facilitates vast opportunities for affordable and inclusive education globally, thereby being an important tool to facilitate the promotion of the right to education, while underlining the need to address digital literacy and the digital divide, as it affects the enjoyment of the right to education (UN Resolution, Human Right Council, 2016)

Proses perubahan IT di UII diawali dari sebuah kesadaran, dan introspeksi bahwa ada yang salah dengan IT. Sebenarnya tidak butuh kejelian mata dalam memandang, cukup dengan perasaan saja kami di UII menyadari, there is something wrong with us. Hanya saja, kami memang pada akhirnya mengundang auditor eksternal untuk meng-assess kami. Sebelum dilakukan proses audit, saat berdiskusi dengan auditor eksternal, mereka cukup terkaget juga, karena baru kali ini mereka mendapatkan client audit dari institusi pendidikan. Selama ini mereka melakukan audit ke perbankan (dalam rangka memenuhi tuntutan aturan OJK biasanya), kemudian ke pertambangan (semacam Pertamina), dan berbagai industri lainnya, dan bahkan mereka jarang mendapatkan client dari luar Jakarta . Jadi membangun kesadaran bahwa ada yang salah dengan kita menjadi kata kunci pertama terjadinya perubahan IT. Audit yang dilakukan di UII didasarkan pada framework COBIT 4.

Selepas dilakukannya audit, maka kemudian kami selaku tim manajemen IT yang baru di UII merancang program yang kami sebut quick win initiatives. Saat itu departemen IT, yang kalau di UII dinamakan Badan Sistem Informasi, adalah badan yang memiliki tingkat kepercayaan publik termasuk paling rendah sendiri. Sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan kembali kepercayaan pengguna. Salah satu program yang kami usulkan saat itu adalah UIIConnect. Saat itu sebenarnya saya terinspirasi oleh infrastruktur wireless pada waktu saya sekolah S3 dulu di Australia, di The University of Queensland, yang dinamakan UQconnect.

Saat itu saya sangat merasa terbantu sekali dengan keberadaan wifi yang bersifat ubiquitous, akses yang tersedia di mana-mana dengan kualitas yang sama, dimana bahkan saya sendiri seringkali bekerja/belajar di tepian danau di dalam kampus yang bernama UQ Lake. Tak jarang pula saya melihat kumpulan mahasiswa berdiskusi dan belajar, tidak hanya di ruang kelas saja, tapi juga di tengah taman, lapangan, di kantin, dan beragam tempat lainnya. Suasana dan atmosfer kampus begitu hidup.

Atmosfer belajar di UQ

Dari sinilah titik kesadaran tersebut dibangun, kami ingin menciptakan atmosfer serupa. Inisiatif IT yang hendak kami bangun mestilah memiliki tujuan besar, bukan sekedar menghabiskan anggaran, tapi kami ingin membangun atmosfer. Atmosfer yang saat kami sekolah dahulu di luar negeri kami terima begitu saja, taken for granted. Cita-cita kami sangat sederhana, kami ingin mahasiswa UII mendapatkan dan membangun atmosfer yang sama seperti dahulu kami merasakan ketika kuliah di luar negeri. Atmosfer itu tentu tidak mungkin terbangun kalau infrastruktur pendukungnya acak-acakan. Melalui studi intensif yang serius di tim manajemen, kemudian saya juga melibatkan mahasiswa saya sendiri untuk mendiskusikan infrastruktur apa yang tepat untuk UII, maka lahirlah konsep UIIConnect yang menjadi backbone infrastruktur UII.

Kembali ke infrastruktur, kami menyadari bahwa UII adalah kelas berat, dia lebih enterprise dari banyak enterprise yang ada di Indonesia. Kami menyadari, tidak mungkin kelas enterprise hanya berbicara seperti kelas warnet. User kami mencapai hampir 30,000 orang (dosen, staf, mahasiswa, dan tamu). Maka ketika merancang WiFi pun juga tidak main-main. Saat itu kami menggunakan pihak ketiga untuk melakukan survey lapangan, di beberapa kampus kami (yang tidak terpusat di satu tempat saja). Kami gunakan software seperti Ekahau untuk merancang, dan menentukan, posisi di mana saja Access Point (AP) harus dipasang. Untuk mendukung backbone, bahkan kami harus roll-out Fiber Optic baru sepanjang 6.6km dengan sekian puluh cores untuk mendukung konsumsi data di masa mendatang. Kami ganti pula core switch kami dengan Cisco 3850 yang didukung dengan puluhan ports yang sudah siap pada kapasitas 10Gbps bahkan disiapkan untuk sanggup mencapai 40Gbps.

Lalu di mana kami harus memasang AP? Pada prinsipnya, perubahan yang dilakukan harus dirasakan oleh semua pihak. Tidak ada lagi fakultas kaya, fakultas miskin, semua akses harus sama, tidak ada diskriminasi. Tidak ada cerita bahwa untuk mendapat akses internet cepat harus berada di tempat ini, di titik ini, dan di jam tertentu. Dan target pertama kami adalah mahasiswa harus happy. Mereka lah salah satu yang mendukung jalan hidup UII. Kalau dipilih dosen, ketika mereka mendapat akses cepat, belum tentu mahasiswa dapat akses yang cepat. Tapi kalau sebaliknya, mahasiswa mendapat akses cepat, tentu dosen pun akan dapat akses yang cepat.

Kemudian sebagai upaya membangun atmosfer, kami letakkan pula AP di tempat yang bahkan oleh beberapa pihak dipandang aneh, yakni di Masjid. Kami adalah kampus Islam, tentu kami menginginkan mahasiswa kami dekat dengan masjid. Pada awalnya ya tentu saja ada sedikit protes, kok internet dipasang di masjid? Nanti ibadah menjadi tidak khusyu’. Kami berargumen, bahwa justru dengan adanya internet, paling tidak ketika mahasiswa ada di masjid, mereka lebih dekat dengan sholat, dengan kajian (walau pada akhirnya hadir tidak untuk berniat mengikuti kajian), dan setidaknya tidak akan mengakses yang aneh-aneh ketika di sana  Dan Alhamdulillah, saat ini mahasiswa tidak hanya hadir di masjid saat waktu sholat saja. Suasana yang mendukung e.g. karpet empuk, AC, bisa belajar sambil tiduran, dan akses internet yang super cepat, menjadikan mahasiswa betah berada di sana.

Nilai seperti itulah yang menjadi spirit kami, bahwa seharusnya teknologi informasi bisa menjadi enabler, yang memungkinkan value yang diinginkan oleh universitas terjadi. Kami menginginkan IT bukan hanya menjadi alat dan perangkat, tapi dia menjadi salah satu akselerator perubahan, pembangun atmosfer akademik yang lebih baik. Dan hingga hari ini, kami masih terus berusaha melakukan perubahan, membawa value yang lebih baik lagi bagi kampus kami, dan bagi Indonesia secara umum melalui IT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *