Mengapa berbagi?

Seri kedua dari Practice what you preach – Preach what you practice

Namanya juga dosen, saya memang hobinya ngecap hehe. Tradisi dosen ini yang pada akhirnya saya bawa ke dalam Badan Sistem Informasi (BSI) UII. Semua staf di BSI UII akan mendapat kesempatan untuk berbagi di sesi Tech Talk yang sudah kita patenkan untuk diselenggarakan secara rutin setiap hari Kamis pagi, kecuali ada acara penting dan mendesak di lingkungan UII. Jadi bagi staf BSI, mengisi acara di depan umum bukan lagi masalah IF tapi sudah merupakan masalah WHEN. Tinggal tunggu giliran saja untuk kemudian maju di depan forum. Bahkan saya sangat mengapresiasi jika ada staf di BSI UII bisa mengisi di tempat lain, dalam beragam forum (terutama terkait teknologi informasi).

speaker

Berbagi bagi kami di BSI adalah salah satu bukti bahwa kami telah memahami konsep dengan baik. Kita boleh saja mengatakan bahwa kita telah menjadi expert dalam sebuah bidang. Tapi ketika kita tidak mampu mendeliver pengetahuan tersebut ke ranah publik, berarti pemahaman kita sebenarnya belum terlalu komprehensif. Setidaknya demikianlah nilai yang diyakini oleh kami. 

Nah, pertanyaan yang kemudian sangat mendasar adalah mengapa kita berbagi? Di seri tulisan sebelumnya, landasan mendasar dari berbagi adalah obsesi ketuhanan, obsesi menjadi generasi rabbani. Nilai ini yang mendasari dari sisi spiritual. Tapi kemudian, dari aspek sosiologis, apa hal-hal yang sebenarnya diinginkan dari berbagi ini?

Kembali lagi ketika saya masih studi S3 di Australia. Adalah betul bahwa setiap kampus yang ada di Australia saat saya ada di sana, mereka saling bersaing satu dengan yang lain. Akan tetapi ada satu hal yang kemudian saya cermati, bahwa dalam posisi mereka bersaing satu dengan yang lain, mereka tetap berkolaborasi satu dengan yang lain. Masing-masing kampus sudah sangat terbiasa berbagi, terbiasa berdiskusi, terbiasa untuk saling berkunjung satu dengan yang lain.

Apa imbas yang kemudian kami rasakan? Semua kampus kemudian berkembang bersama. Dari perspektif saya yang saat itu menjadi mahasiswa, pada saat saya berkunjung ke kampus lain di Australia, tidak ada suasana yang berbeda antara satu dengan yang lain. Artinya ketika saya harus melakukan joint research, akses yang saya dapatkan seamless, perasaan saya ketika berkunjung ke kampus lain pun equal, meski di lapangan kampus tersebut peringkatnya dengan kampus saya selisih ratusan (dalam versi The Higher Education Supplement – THES). Jadi tidak ada cerita, kampus satu dengan kampus yang lain terlihat jomplang.

Saya sangat terkesan dengan bagaimana Research Education Network (REN) di Australia, AARNET bermula dari beberapa universitas di Australia bekerja sama untuk membentuk National Network. Mereka saling berbagi pengetahuan satu dan yang lain, hingga akhirnya memiliki jaringan yang sangat luar biasa maju.

Karena itulah, sudah sekitar satu tahun terakhir, kami banyak berdiskusi, berbagai dengan beragam pihak, baik lokal di Yogyakarta (Universitas dan non-Universitas), nasional, maupun internasional, untuk membangun kerja sama dan menjadi ajang kami berbagi. Yang menarik, pada saat kami berbagi, sebenarnya saat itu kami sedang belajar dari tempat yang lain.  Walaupun nampaknya kami berbagi, berbagi tentang transformasi IT di BSI UII, tapi sebenarnya kami lah yang belajar dari beragam institusi lain. Kami belajar dari masalah-masalah mereka, untuk kemudian kami melakukan kegiatan prevention untuk mencegah hal tersebut terjadi di kami.

Jadi pada prinsipnya, kegiatan berbagi sama sekali tidak mengurangi apa yang kami miliki, justru kebalikannya, semakin lama, basis pengetahuan kami semakin bertambah. Apalagi dalam ranah teknologi informasi, yang tidak jarang update terjadi dalam waktu yang sangat pendek, atau dengan kata lain, siklus hidup yang sangat pendek. 

Membangun budaya, bukan sekedar membeli teknologi

Suatu ketika, saat salah satu fakultas di UII mendapatkan kunjungan dari asesor dari salah satu lembaga akreditas internasional dan saya bertugas mendampingi asesor tersebut ketika melakukan visitasi lapangan terkait teknologi informasi. Pada saat pendampingan, ada pertanyaan yang muncul dari asesor tersebut “What do you think about your IT infrastructures? Are you happy with it? How do you improve it?” dan beberapa pertanyaan lainnya.

Building Lego

Pertanyaan yang dia lontarkan adalah pertanyaan yang wajar yang datang dari seorang asesor yang berasal dari luar negeri. Karena seringkali memang pada kenyataannya, di Indonesia, tidak banyak kampus yang mampu memberikan delivery teknologi informasi yang sejajar dengan apa yang diberikan oleh kampus-kampus di luar negeri. Dahulu saya pun selalu memandang kampus di luar negeri dengan kepala mendongak. Seperti sebuah bintang nun jauh di sana, yang tidak mungkin bagi kami yang ada di Indonesia untuk mengejarnya. Seakan-akan, yang ada di Indonesia ini hanya bisa bermimpi sambil terbayang susahnya untuk mencapai level yang sama dengan yang ada di luar negeri tadi.

Saat itu kami sedang mengawali, sedang berada di tahun pertama proses transformasi teknologi informasi di kampus. Sebagaimana tulisan yang pernah saya share di laman ini, semua proses perubahan teknologi informasi selalu berawal dari sebuah nilai yang hendak disasar. Maka kemudian pertanyaan itu saya jawab seperti ini:

You know, as long as we have money, we can buy any kind of technology that we want. But, we are not just buying tech. We want to create a culture. We want to see my students learn anywhere they want. We want to make a culture shift. We want to see how information technology is being used to shape the way we work, the way we learn, and the way we play. 

Jadi, secara umum saya menjawab bahwa membeli teknologi ini sangat mudah, asal punya uang, saya bisa beli semua hal. Tapi membeli teknologi bisa menjadi hal yang kurang bermanfaat ketika pada akhirnya tidak ada nilai yang bisa tercapai.

Salah satu contoh yang terjadi di UII adalah pada saat kami memperkenalkan teknologi yang bernama UIIPrint. Layanan ini memungkinkan seluruh civitas akademika UII untuk melakukan layanan cetak, kopi, dan pindai (print, copy, and scanning) secara mandiri dan tersedia di banyak lokasi di seluruh fakultas di UII. Seorang dosen/mahasiswa bisa mencetak dari manapun di seluruh penjuru dunia, asal memiliki koneksi internet. Layanan ini juga kami siapkan untuk mereduksi jumlah printer di UII yang jumlahnya nauzubillah 😀 dan memberikan layanan terbaik, dengan kualitas cetak yang sangat baik, jauh dari existing printer yang ada di UII.

Tapi sebenarnya ada nilai lain yang lahir dari konsep UIIPrint ini, yakni agar dosen/staf dan mahasiswa UII mau jalan kaki. Tidak jarang dosen/staf duduk seharian di ruang mereka dan tidak pernah jalan kaki, alias mager, duduk di tempat. Pada saat mereka mencetak dokumen pun, cukup di meja saja. Lengkap sudah kemalasan mereka. Karena itulah, adanya UIIPrint paling tidak dapat memaksa mereka untuk berjalan kaki ke perangkat UIIPrint.

Kami bahkan membikin joke, “Katanya mau jihad, masak jalan 10 meter saja tidak mau! ” 😀 UIIPrint lahir bukan hanya untuk mereduksi jumlah printer, tapi juga mengubah kultur agar berhemat kertas, kalaupun mencetak, tentu sesuai kebutuhan, karena harus jalan terlebih dahulu sebelum mengambil cetakan, dan lain sebagainya. Jadi di sini, teknologi UIIPrint diadakan untuk membangun budaya, bukan penggunaan teknologi belaka nir makna. Begitu pula dengan beragam teknologi lain yang kami introduksi, semua bermuara untuk melakukan perubahan budaya.