Membangun budaya, bukan sekedar membeli teknologi

Suatu ketika, saat salah satu fakultas di UII mendapatkan kunjungan dari asesor dari salah satu lembaga akreditas internasional dan saya bertugas mendampingi asesor tersebut ketika melakukan visitasi lapangan terkait teknologi informasi. Pada saat pendampingan, ada pertanyaan yang muncul dari asesor tersebut “What do you think about your IT infrastructures? Are you happy with it? How do you improve it?” dan beberapa pertanyaan lainnya.

Building Lego

Pertanyaan yang dia lontarkan adalah pertanyaan yang wajar yang datang dari seorang asesor yang berasal dari luar negeri. Karena seringkali memang pada kenyataannya, di Indonesia, tidak banyak kampus yang mampu memberikan delivery teknologi informasi yang sejajar dengan apa yang diberikan oleh kampus-kampus di luar negeri. Dahulu saya pun selalu memandang kampus di luar negeri dengan kepala mendongak. Seperti sebuah bintang nun jauh di sana, yang tidak mungkin bagi kami yang ada di Indonesia untuk mengejarnya. Seakan-akan, yang ada di Indonesia ini hanya bisa bermimpi sambil terbayang susahnya untuk mencapai level yang sama dengan yang ada di luar negeri tadi.

Saat itu kami sedang mengawali, sedang berada di tahun pertama proses transformasi teknologi informasi di kampus. Sebagaimana tulisan yang pernah saya share di laman ini, semua proses perubahan teknologi informasi selalu berawal dari sebuah nilai yang hendak disasar. Maka kemudian pertanyaan itu saya jawab seperti ini:

You know, as long as we have money, we can buy any kind of technology that we want. But, we are not just buying tech. We want to create a culture. We want to see my students learn anywhere they want. We want to make a culture shift. We want to see how information technology is being used to shape the way we work, the way we learn, and the way we play. 

Jadi, secara umum saya menjawab bahwa membeli teknologi ini sangat mudah, asal punya uang, saya bisa beli semua hal. Tapi membeli teknologi bisa menjadi hal yang kurang bermanfaat ketika pada akhirnya tidak ada nilai yang bisa tercapai.

Salah satu contoh yang terjadi di UII adalah pada saat kami memperkenalkan teknologi yang bernama UIIPrint. Layanan ini memungkinkan seluruh civitas akademika UII untuk melakukan layanan cetak, kopi, dan pindai (print, copy, and scanning) secara mandiri dan tersedia di banyak lokasi di seluruh fakultas di UII. Seorang dosen/mahasiswa bisa mencetak dari manapun di seluruh penjuru dunia, asal memiliki koneksi internet. Layanan ini juga kami siapkan untuk mereduksi jumlah printer di UII yang jumlahnya nauzubillah 😀 dan memberikan layanan terbaik, dengan kualitas cetak yang sangat baik, jauh dari existing printer yang ada di UII.

Tapi sebenarnya ada nilai lain yang lahir dari konsep UIIPrint ini, yakni agar dosen/staf dan mahasiswa UII mau jalan kaki. Tidak jarang dosen/staf duduk seharian di ruang mereka dan tidak pernah jalan kaki, alias mager, duduk di tempat. Pada saat mereka mencetak dokumen pun, cukup di meja saja. Lengkap sudah kemalasan mereka. Karena itulah, adanya UIIPrint paling tidak dapat memaksa mereka untuk berjalan kaki ke perangkat UIIPrint.

Kami bahkan membikin joke, “Katanya mau jihad, masak jalan 10 meter saja tidak mau! ” 😀 UIIPrint lahir bukan hanya untuk mereduksi jumlah printer, tapi juga mengubah kultur agar berhemat kertas, kalaupun mencetak, tentu sesuai kebutuhan, karena harus jalan terlebih dahulu sebelum mengambil cetakan, dan lain sebagainya. Jadi di sini, teknologi UIIPrint diadakan untuk membangun budaya, bukan penggunaan teknologi belaka nir makna. Begitu pula dengan beragam teknologi lain yang kami introduksi, semua bermuara untuk melakukan perubahan budaya.

IT as an enabler, teknologi informasi sebagai pemungkin nilai

Emphasizing that access to information on the Internet facilitates vast opportunities for affordable and inclusive education globally, thereby being an important tool to facilitate the promotion of the right to education, while underlining the need to address digital literacy and the digital divide, as it affects the enjoyment of the right to education (UN Resolution, Human Right Council, 2016)

Proses perubahan IT di UII diawali dari sebuah kesadaran, dan introspeksi bahwa ada yang salah dengan IT. Sebenarnya tidak butuh kejelian mata dalam memandang, cukup dengan perasaan saja kami di UII menyadari, there is something wrong with us. Hanya saja, kami memang pada akhirnya mengundang auditor eksternal untuk meng-assess kami. Sebelum dilakukan proses audit, saat berdiskusi dengan auditor eksternal, mereka cukup terkaget juga, karena baru kali ini mereka mendapatkan client audit dari institusi pendidikan. Selama ini mereka melakukan audit ke perbankan (dalam rangka memenuhi tuntutan aturan OJK biasanya), kemudian ke pertambangan (semacam Pertamina), dan berbagai industri lainnya, dan bahkan mereka jarang mendapatkan client dari luar Jakarta . Jadi membangun kesadaran bahwa ada yang salah dengan kita menjadi kata kunci pertama terjadinya perubahan IT. Audit yang dilakukan di UII didasarkan pada framework COBIT 4.

Selepas dilakukannya audit, maka kemudian kami selaku tim manajemen IT yang baru di UII merancang program yang kami sebut quick win initiatives. Saat itu departemen IT, yang kalau di UII dinamakan Badan Sistem Informasi, adalah badan yang memiliki tingkat kepercayaan publik termasuk paling rendah sendiri. Sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk meningkatkan kembali kepercayaan pengguna. Salah satu program yang kami usulkan saat itu adalah UIIConnect. Saat itu sebenarnya saya terinspirasi oleh infrastruktur wireless pada waktu saya sekolah S3 dulu di Australia, di The University of Queensland, yang dinamakan UQconnect.

Saat itu saya sangat merasa terbantu sekali dengan keberadaan wifi yang bersifat ubiquitous, akses yang tersedia di mana-mana dengan kualitas yang sama, dimana bahkan saya sendiri seringkali bekerja/belajar di tepian danau di dalam kampus yang bernama UQ Lake. Tak jarang pula saya melihat kumpulan mahasiswa berdiskusi dan belajar, tidak hanya di ruang kelas saja, tapi juga di tengah taman, lapangan, di kantin, dan beragam tempat lainnya. Suasana dan atmosfer kampus begitu hidup.

Atmosfer belajar di UQ

Dari sinilah titik kesadaran tersebut dibangun, kami ingin menciptakan atmosfer serupa. Inisiatif IT yang hendak kami bangun mestilah memiliki tujuan besar, bukan sekedar menghabiskan anggaran, tapi kami ingin membangun atmosfer. Atmosfer yang saat kami sekolah dahulu di luar negeri kami terima begitu saja, taken for granted. Cita-cita kami sangat sederhana, kami ingin mahasiswa UII mendapatkan dan membangun atmosfer yang sama seperti dahulu kami merasakan ketika kuliah di luar negeri. Atmosfer itu tentu tidak mungkin terbangun kalau infrastruktur pendukungnya acak-acakan. Melalui studi intensif yang serius di tim manajemen, kemudian saya juga melibatkan mahasiswa saya sendiri untuk mendiskusikan infrastruktur apa yang tepat untuk UII, maka lahirlah konsep UIIConnect yang menjadi backbone infrastruktur UII.

Kembali ke infrastruktur, kami menyadari bahwa UII adalah kelas berat, dia lebih enterprise dari banyak enterprise yang ada di Indonesia. Kami menyadari, tidak mungkin kelas enterprise hanya berbicara seperti kelas warnet. User kami mencapai hampir 30,000 orang (dosen, staf, mahasiswa, dan tamu). Maka ketika merancang WiFi pun juga tidak main-main. Saat itu kami menggunakan pihak ketiga untuk melakukan survey lapangan, di beberapa kampus kami (yang tidak terpusat di satu tempat saja). Kami gunakan software seperti Ekahau untuk merancang, dan menentukan, posisi di mana saja Access Point (AP) harus dipasang. Untuk mendukung backbone, bahkan kami harus roll-out Fiber Optic baru sepanjang 6.6km dengan sekian puluh cores untuk mendukung konsumsi data di masa mendatang. Kami ganti pula core switch kami dengan Cisco 3850 yang didukung dengan puluhan ports yang sudah siap pada kapasitas 10Gbps bahkan disiapkan untuk sanggup mencapai 40Gbps.

Lalu di mana kami harus memasang AP? Pada prinsipnya, perubahan yang dilakukan harus dirasakan oleh semua pihak. Tidak ada lagi fakultas kaya, fakultas miskin, semua akses harus sama, tidak ada diskriminasi. Tidak ada cerita bahwa untuk mendapat akses internet cepat harus berada di tempat ini, di titik ini, dan di jam tertentu. Dan target pertama kami adalah mahasiswa harus happy. Mereka lah salah satu yang mendukung jalan hidup UII. Kalau dipilih dosen, ketika mereka mendapat akses cepat, belum tentu mahasiswa dapat akses yang cepat. Tapi kalau sebaliknya, mahasiswa mendapat akses cepat, tentu dosen pun akan dapat akses yang cepat.

Kemudian sebagai upaya membangun atmosfer, kami letakkan pula AP di tempat yang bahkan oleh beberapa pihak dipandang aneh, yakni di Masjid. Kami adalah kampus Islam, tentu kami menginginkan mahasiswa kami dekat dengan masjid. Pada awalnya ya tentu saja ada sedikit protes, kok internet dipasang di masjid? Nanti ibadah menjadi tidak khusyu’. Kami berargumen, bahwa justru dengan adanya internet, paling tidak ketika mahasiswa ada di masjid, mereka lebih dekat dengan sholat, dengan kajian (walau pada akhirnya hadir tidak untuk berniat mengikuti kajian), dan setidaknya tidak akan mengakses yang aneh-aneh ketika di sana  Dan Alhamdulillah, saat ini mahasiswa tidak hanya hadir di masjid saat waktu sholat saja. Suasana yang mendukung e.g. karpet empuk, AC, bisa belajar sambil tiduran, dan akses internet yang super cepat, menjadikan mahasiswa betah berada di sana.

Nilai seperti itulah yang menjadi spirit kami, bahwa seharusnya teknologi informasi bisa menjadi enabler, yang memungkinkan value yang diinginkan oleh universitas terjadi. Kami menginginkan IT bukan hanya menjadi alat dan perangkat, tapi dia menjadi salah satu akselerator perubahan, pembangun atmosfer akademik yang lebih baik. Dan hingga hari ini, kami masih terus berusaha melakukan perubahan, membawa value yang lebih baik lagi bagi kampus kami, dan bagi Indonesia secara umum melalui IT.

Nilai strategis teknologi informasi – Badan Sistem Informasi UII

Dalam pemaparan action plan pada bulan Maret 2018, Rektor UII (2018-2022), Fathul Wahid, PhD, yang pada saat itu masih menjabat sebagai Kepala BSI UII menyampaikan tentang filosofi ke mana UII akan bergerak. Filosofi bergerak ini dilandaskan pada ayat Alquran, yakni QS Ibrahim: 24-25

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ – 14:24

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ – 14:25

Have you not considered how Allah presents an example, [making] a good word like a good tree, whose root is firmly fixed and its branches [high] in the sky? It produces its fruit all the time, by permission of its Lord. And Allah presents examples for the people that perhaps they will be reminded.

Allah memberikan perumpamaan, sebagai seorang muslim, maka dia harus memiliki pondasi (aqidah) yang kuat, laksana pohon yang akarnya menghunjam ke dalam bumi. Akar yang kuat ini akan menjamin bahwa pohon yang akan tumbuh di atasnya telah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin terhadap apa-apa saja yang akan dihadapi oleh muslim ke depannya, baik dalam keadaan suka maupun duka. Akan tetapi menjadi seorang muslim tidak lah cukup dengan beraqidah yang kuat. Sebuah rumah, yang hanya terdiri dari pondasi saja, bukanlah sebuah rumah namanya. Maka, muslim haruslah memiliki eksistensi, dia harus nampak di sekitarnya. Inilah konsep yang dalam surat Ibrahim disebut sebagai batang yang menjulang ke langit. UII tidak bisa berapologi dengan mengatakan, bahwa cukuplah kebaikan Islam bagi kita. Tapi bagaimana kebaikan Islam bisa ditampakkan oleh  oleh UII. Islam tidak bisa hanya tenggelam di dalam tanah, sekuat apa pun dia, tapi sama sekali tidak akan memberikan kebaikan apa pun ketika dia disembunyikan. Kebaikan ini harus ditampakkan, bahkan hingga sejauh mata memandang. Sehingga orang sekitar dapat melihat, oh, this is what Islam is all about.

Menjadi orang yang besar nampaknya seperti sesuatu yang expected bagi muslim. Muslim diekspektasikan yang akan membawa kepada perubahan peradaban ke arah kebaikan. Islam hadir untuk membangun bukan hanya dari sisi ibadah an sich, tapi juga kultur, budaya, pembanguna manusia, dan lain sebagainya. Itulah mengapa di ayat ke 25, Allah memberikan gambaran bahwa muslim hendaknya dapat memberikan kemanfaatan bagi yang lain, sebagaimana buah yang dihasilkan pohon, yang bahkan pohonnya sendiri nyaris tidak pernah memanfaatkan buah yang dia produksi. Hal ini selaras dengan konsep khayrunnaasi anfa’ahum linnas, sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lainnya dan selaras pula dengan misi UII yakni menegakkan Wahyu Illahi dan Sunnah Nabi sebagai sumber kebenaran abadi yang membawa rahmat bagi alam semesta melalui pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, sastra dan seni yang berjiwa Islam, dalam rangka membentuk cendekiawan muslim dan pemimpin bangsa yang bertakwa, berakhlak mulia,  berilmu amaliah dan beramal ilmiah, yang memiliki keunggulan dalam keislaman, keilmuan,  kepemimpinan, keahlian, kemandirian dan profesionalisme.

Inilah peran besar UII, yang tentunya Badan Sistem Informasi, sebagai badan strategis di bawah rektor juga harus dapat membantu menerjemahkan konsep besar ini ke dalam ranah teknologi informasi yang diembannya.

Hari ini adalah hari di mana kita melihat digitalisasi dalam banyak hal. Dosen, staf, dan mahasiswa hidup pada periode di mana perubahan teknologi, terutama teknologi informasi terjadi secara masif, dalam waktu singkat, yang tentu saja menantang sekaligus membawa kesempatan baru. Sangat banyak sekali aspek kehidupan kita saat ini yang telah mengalami digitalisasi. Teknologi informasi nyata memiliki pengaruh langsung, tak terkecuali teknologi informasi di Universitas Islam Indonesia. Teknologi informasi adalah salah satu agen yang membantu terbentuknya cendekiawan muslim dan pemimpin bangsa yang mampu membawa perubahan.

BSI UII sangatlah diharapkan mampu membawa, memperkenalkan, mengadaptasi dan menjadi bagian penting dari perubahan-perubahan teknologi informasi yang akan mendukung seluruh kegiatan di UII dan mampu membedakan UII dengan institusi pendidikan tinggi yang lain.

Jangan Lupa Bahagia

Jangan Lupa Bahagia!!

Jangan Lupa Bahagia (IG @dagelantruk)

Frase pendek ini mulai disertakan dalam beragam hal yang dilakukan oleh Badan Sistem Informasi Universitas Islam Indonesia (BSI UII( sekitar bulan Agustus 2016. Setelah proses renovasi ruang sekretariat BSI UII selesai, setiap staf ITSupport mendapatkan papan nama, dan di sebalik papan nama tersebut dituliskan frase Jangan lupa bahagia.

Frase ini merupakan kalimat pendek yang mengingatkan positive attitude yang harus dimiliki dan diresapi maknanya oleh setiap anggota keluarga BSI UII. Perilaku positif adalah perilaku yang sangat ditekankan dalam keseharian seorang muslim. Ada sangat banyak sekali ayat dalam Alquran yang memberikan motivasi bagi kaum beriman untuk senantiasa melihat segala sesuatu dari perspektif positif.

Pada saat Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam kehilangan putra, ayat yang kemudian turun adalah surat Al Kautsar. Yang esensinya adalah, bagaimana Allah SWT telah memberikan (a’tho) kenikmatan yang sangat banyak sekali (kautsar), meski saat itu Nabi SAW sedang bersedih karena kehilangan putra. Dalam kondisi kesulitan, Allah SWT mengubah perspektif orang beriman, agar senantiasa melihat sisi positif ketimbang sisi negatif. Kehilangan anak tentu saja sangat menyedihkan, akan tetapi di titik kesedihan yang mendalam tadi, sebenarnya, ada hal positif yang lebih banyak kita dapatkan. Perspektif ini membantu mempermudah kita bouncing back ke arah yang lebih baik.

Nabi SAW mengajarkan, bahkan dalam kondisi kesulitan, yang wajib terucap dari setiap muslim adalah “Alhamdulillahi ‘alaa kulli haal”,  Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu yang menimpa kita. Dalam kisah yang lain, di dalam Alquran, positive attitude juga diajarkan kepada kita dalam surat Ibrahim ayat 7:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ – 14:7

Ayat ini turun sebagai lanjutan dari kisah yang berkenaan dengan Bani Israil ketika diuji oleh Allah SWT dengan keberadaan Firaun yang memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi lelaki dari kalangan Bani Israil. Pembunuhan terhadap bayi adalah sesuatu yang sangat sulit difahami oleh manusia normal. It is impossible for a normal human being to receive news of baby slaughtering and they are okay for that.

Allah SWT memberikan perspektif positive attitude dengan mengingatkan kepada Bani Israil, bahwa meski mereka menghadapi musibah yang sangat besar, mereka diminta mengingat bahwa kenikmatan yang telah diberikan Allah SWT sangat jauh lebih besar ketimbang musibah yang mereka hadapi. Sehingga, di surat Ibrahim ayat 7, Allah SWT menyampaikan bahwa kita diminta untuk mengingat kenikmatan yang kita miliki dengan cara menambah rasa syukur. Secara tidak langsung, di sini juga disampaikan bahwa kesyukuran tidak dapat dilakukan secara sempurna tanpa memahami kesabaran, atau sebaliknya, kesabaran atas musibah tidak bisa dijalani dengan sempurna sebelum kita memahami bahwa kita harus bersyukur atas banyak hal.

Maka di sini, BSI UII memiliki motto layaknya tulisan di belakang bak Truk, Jangan Lupa Bahagia!, untuk senantiasa mengingatkan kepada setiap kita, bahwa setiap diri kita di BSI harus terus menerus bersyukur, memiliki positive attitude yang membersamai langkah kita sehari-harinya, meski ada tangisan, kelelahan, pertengkaran, yang itu semua tidak lah sebanding dengan beragam kebaikan yang kita temukan sehari-hari.

Practice what you preach – Preach what you practice

Bekerja di Badan Sistem Informasi UII adalah bekerja dengan hati, bekerja dengan pemahaman, bukan karena sekedar diperintahkan."

Sebagai kepala Badan Sistem Informasi, Universitas Islam Indonesia (BSI UII) (2018-2022), salah satu filosofi yang terus menerus saya tekankan di kantor adalah pentingnya untuk bekerja bukan hanya giat, tapi bekerja cerdas. Saya menterjemahkan model bekerja ini dengan dua buah filosofi kerja.

Filosofi pertama adalah Practice What You Preach. Setiap Kamis pagi, kami di BSI UII secara rutin menyelenggarakan kegiatan yang kami sebut sebagai TechTalk. TechTalk menjadi salah satu sarana kami secara internal untuk mendiseminasi pengetahuan, mendiseminasi pemahaman, dan upgrade keilmuan terutama terkait teknologi informasi di lingkungan BSI UII. Ajang ini menjadi wahana agar setiap anggota keluarga BSI (yang kami menyebutnya sebagai sahabat BSI) memahami apa yang sedang terjadi, apa yang sedang dipelajari, dan apa yang diinginkan di BSI ini ke depan.

Kegiatan update teknologi ini menjadi kegiatan yang sangat penting bagi kami. Teknologi Informasi adalah ranah pengetahuan yang akselerasi pengetahuannya sangat cepat sekali, bisa setahun sekali teknologi telah berganti, atau bahkan mungkin kurang dari setahun. Pengalaman pribadi, dahulu, di awal tahun 2000, ketika saya belajar Java Script, yang namanya Java Script ya jelas satu hal itu, terdefinisi dengan jelas. Di masa kini, engineer dihadapkan pada beragam pilihan framework, ada React, Angular, Vue, dlsb. Setiap pilihan mengandung konsekuensi tersendiri tentunya.

Meskipun demikian, TechTalk ini bukan sekedar menjadi ajang dalam rangka memenuhi tugas pekanan, tapi juga jadi alat motivasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja BSI UII, sampai pada tingkatan individual, wabil khusus pengisi materi TechTalk internal. Dia harus menjadi agen perubahan yang akan melakukan perubahan kepada dirinya sendiri, dan juga perubahan di sekelilingnya. Senafas dengan apa yang disampaikan dalam Alquran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ – 61:2

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa engkau menyampaikan sesuatu yang tidak engkau lakukan.

Surat Ash Shaf mengingatkan kepada kita semua, bahwa sahabat BSI bukanlah jarkoniiso ujar ora iso nglakoni (bisa menyampaikan tapi tidak bisa menjalani), atau ndelok, kendel alokbisanya hanya berkomentar. Setiap angggota sahabat BSI menjadi contoh bagaimana praktik IT yang baik dilakukan di lingkungan organisasi, khususnya BSI, dan umumnya UII.

Filosofi yang kedua adalah Preach What You Practice. Sahabat BSI punya tanggung jawab untuk menyampaikan kepada khalayak tentang apa saja yang telah mereka lakukan di BSI. Tiga peran BSI UII, melayani, mendampingi, dan mengakselerasi, hanya bisa dicapai ketika semua stakeholders di UII memahami dengan baik apa yang dicitakan oleh pimpinan yang kemudian diterjemahkan oleh BSI. Artinya, BSI UII memiliki tanggung jawab besar agar perubahan value di UII terutama yang berbasis teknologi informasi bisa diterima oleh seluruh stakeholders. Hal ini sejalan dengan apa yang diwahyukan dalam Alquran, surat Ali Imran, ayat 79

 وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ – 3:79

Akan tetapi hendaklah kalian menjadi generasi Rabbani, generasi yang mengajarkan Alkitab, dan kemudian mengajarkannya.

Obsesi seorang generasi Rabbani adalah MENGAJARKAN terlebih dahulu sebelum BELAJARSetiap pengajar pasti belajar, akan tetapi belum tentu yang belajar akan menjadi pengajar. Di BSI UII, ketika obsesi yang dibangun adalah melakukan perubahan, dan akan mengajarkan perubahan tersebut ke lingkungan sekitar UII, maka dapat dipastikan sahabat BSI akan melakukan proses belajar terlebih dahulu, sehingga filosofi pertama tidak dilanggar. Dengan dua filosofi ini, BSI UII terus berbenah, dan berbagi, untuk kebaikan bersama institusi ini.

eduroam UII, eduroam Indonesia

eduroam

Suatu hari saya dan istri bersama dengan kawan baik sewaktu masih studi S3 di The Univesity of Queensland, Imam Santoso, berkesempatan untuk jalan-jalan ke The University of Auckland, New Zealand. Sebenarnya kami sama sekali tidak merencanakan untuk pergi ke sana, karena tujuan awal kami ke New Zealand adalah untuk berlibur di South Island dari New Zealand yang memang terkenal ciamik alam pemandangannya. Akan tetapi pada hari keberangkatan kami, terjadi badai salju di Christchurch yang memaksa kami harus mengalihkan pesawat pindah ke Auckland. Di sana, kami berjumpa kawan lama pada saat saya sekolah master di NTU Singapura,  yang saat itu sedang menetap di Auckland. Oleh kawan saya, kami diajak untuk jalan-jalan, salah satunya adalah ke The University of Auckland, New Zealand.

Saat kami sedang berada di sana, tiba-tiba smartphone kami mendapatkan notifikasi dari beberapa aplikasi, padahal saat itu belum beli SIM Card lokal. Ternyata smartphone kami semua langsung terhubung ke dalam jaringan eduroam yang tersedia di The University of Auckland. “Wow! Demikian seru kami” Jejaring eduroam ternyata sampai juga di New Zealand. Saat itu, kami yang bersekolah di Australia, banyak yang memanfaatkan jejaring WiFi eduroam yang tersedia di hampir seluruh kampus di Australia. Sehingga kemanapun kami pergi di Australia, kami akan langsung mendapatkan koneksi WiFi tanpa harus bertanya kesana kemari hanya untuk mendapatkan akses WiFi. Kami tidak perlu menghubungi IT Support kampus yang kami tuju, karena otomatis WiFi di laptop atau smartphone kami dapat langsung terhubung secara seamless.

Apa sih eduroam itu?

Dari website eduroam.org, didefinisikan sebagai berikut:

“eduroam (education roaming) is the secure, world-wide roaming access service developed for the international research and education community.

Having started in Europe, eduroam has gained momentum throughout the research and education community and is now available in 72 territories.”

Saat ini, eduroam telah tersedia di 89 negara, di lebih dari 12,000 institusi pendidikan dan riset. Manfaat yang sangat terasa dengan keberadaan eduroam adalah, sering kali kami berkolaborasi dengan kolega dari universitas yang berbeda, kami saling berkunjung dari universitas satu ke universitas lain, baik sekedar main saja, ataupun melakukan riset bersama, dan kami tidak pernah direpotkan dengan kendala WiFi untuk membantu pekerjaan kami.

Pulang sekolah S3 dari Australia, sepertinya bagi saya, hanya bermimpi saja untuk bisa mendapatkan konektivitas WiFi dengan model eduroam tadi. Hingga bulan Maret tahun 2016, Rektor UII saat itu, Bp. Harsoyo meminta saya dan beberapa rekan untuk membantu menangani transformasi layanan teknologi informasi di UII. Sebuah kesempatan besar pikir saya. Sejak saat itu, salah satu yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana wifi di UII bisa sekelas kampus-kampus besar di dunia, dan bagaimana caranya UII bisa terhubung dengan eduroam.

Saat ini, setiap tahunnya, ada ribuan baik dosen maupun mahasiswa UII yang melakukan travelling ke berbagai kampus di berbagai belahan dunia. Begitu juga UII seringkali mendapatkan tamu, baik exchange student, visiting professor dari berbagai kampus dunia. Dari sini, kebutuhan UII untuk terhubung dalam jejaring eduroam, orang Inggris bilang, inevitable.

Alhamdulillah, mulai bulan Maret 2017, UII sudah terhubung ke dalam jejaring eduroam. Pada saat UII terhubung dengan eduroam, baru ada satu kampus yang sudah memiliki koneksi eduroam, yakni ITB. Kini UII dan ITB, keduanya berperan sebagai National Roaming Operator eduroam, yakni yang memiliki tanggung jawab untuk menghubungkan lembaga pendidikan tinggi dan riset di Indonesia untuk terhubung ke eduroam internasional.

Bagaimana cara terhubung dengan eduroam?

Sederhana saja, asal kita sudah pernah terhubung dengan SSID WiFi eduroam sebelumnya di kampus/institusi tempat kita berasal, ke manapun kita pergi, perangkat kita akan mencari sendiri sinyal eduroam, dan kita akan otomatis terhubung di dalamnya. Intinya eduroam akan sangat memanjakan user 🙂 And we are so happy and proud about it 🙂

 

Bacaan lanjut:

Website eduroam Indonesia: https://eduroamid.info
Website eduroam internasional: https://eduroam.org

How fast internet speed in Universitas Islam Indonesia is?

I’ve been asked by many people, how fast is internet speed at Universitas Islam Indonesia. I told them that we can deliver speed for each user up to 300Mbps, even though it really actually depends on each user’s device. But quite often, they didn’t believe of what I said. So, here are some screenshots of how fast our internet is

Speedtest to Yogyakarta
Speedtest to Singapore